Wednesday, August 31, 2011

Miliki Kecerdasan Yang Integral (Holistik) dengan Menghafal Al-Quran


Al-Quran adalah kunci kecerdasan integral” ini adalah moto yang selalu Kami ingin sebarkan kepada seluruh kaum muslimin, dengan menghafal Al-Quran maka semua potensi kecerdasan manusia akan terasah, berikut penjelasannya.
 
Menghafal Al-Quran menguatkan hubungan dengan Allah sang pemilik ilmu
Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan adalah milik-NYA, Dialah Al Aliim. Dialah pemilik semua jawaban dan dengan kasih-NYA Ia menurunkan setetes ilmu di dunia ini agar manusia memiliki makna yang istimewa, supaya manusia memiliki perangkat untuk tampil sebagai khalifah, agar manusia dapat mengelola dengan baik (mengambil dan memelihara) semua rizki yang dikaruniakan-NYA di dunia ini.

Dari semua ilmu, ulumul Quranlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) AlQuranlah yang paling mulia. Jika kita mempelajari Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.

Dan karenanyalah Insya Allah sang penghafal Al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah SWT dalam dua bentuk, yaitu ; kemudahan mempelajari Al-Quran (QS Al-Qamar 17)  dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS Al-Mujadilah 11).
“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar 17)
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  (QS Al-Mujadilah 11).
Andai seseorang ingin mempelajari teori quantum pada ilmu fisika. Ia harus menghabiskan waktu sebulan agar dapat memahaminya dengan baik, namun apabila ia menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk menghafal Quran, maka Allah yang rahiim sang pemilik ilmu dan kemudahan itu akan mengganti waktu dan jerih payahnya menghafal Al-Quran itu dengan cara membuka kecerdasan sang penghafal Quran, sehingga dalam waktu lebih singkat – seminggu- ia sudah berhasil memahami dengan baik teori Quantum. Inilah yang dialami oleh para tokoh Islam yang tidak hanya dikenal sebagai Ulama besar, tetapi sekaligus juga ilmuwan dari berbagai bidang.

Mengherankan ada manusia yang bisa sedemikian banyak memahami berbagai bidang ilmu, misalnya Imam Ghazali adalah seorang teolog, filsuf (filsafat Islam), ahli fikih, ahli tasawuf, pakar psikologi, logika bahkan ekonom dan  kosmologi. Atau Ibnu Sina seorang ulama yang sedari kecil mempelajari ilmu tafsir, Fikih, Tasawuf, tiba-tiba bisa disebut sebagai pakar kedokteran dan digelari ‘Medicorium Principal’(Rajanya ara dokter) dan buku yang ditulisnya ; Al-Qanun Fith-Thib menjadi bahan pelajaran semua dokter didunia.

Faktor penting yang menjadikan mereka mampu melanglang buana keilmuan dan melintasi cabang keilmuan yang seolah (bagi mereka yang dikotomis -suka memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum) berseberangan ini adalah karena mereka menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga Allah SWT sang pemilik ilmu membukakan bagi mereka pintu gerbang ilmu-ilmu lainnya.

Menghafal adalah dasar dari ilmu pengetahuan
Menghafal adalah dasar dari semua aktivitas otak. setelah data terparkir dengan baik, baru dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut ; misalnya identifikasi, pengklasifikasian berdasarkan kesamaan, membandingkan dan mencari perbedaan, mengkombinasikan persamaan dan atau perbedaan untuk melahirkan sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.

Misalnya abjad, seorang anak harus menghafalnya terlebih dahulu baru bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Angka harus dihafal dahulu sebelum dipermainkan dalam bidang matematika. Setiap pasal dan ayat dalam undang-undang harus dihafal dahulu sebelum digunakan para hakim, pengacara, dan penuntut di ruang pengadilan.

Menghafal adalah dasar dari semua ilmu. Tanpa materi hafalan tidak ada data yang bisa diolah, tanpa olahan data maka ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada. Menghafal adalah tangga pertama ilmu pengetahuan, menghafal adalah langkah wajib untuk cerdas.

Ada yang mengatakan bahwa menghafal akan melemahkan kemampuan analisa si anak, pernyataan ini benar, kalau si anak hanya disuruh menghafal saja tanpa melanjutkan ke proses lainnya. Menghafal adalah tahapan awal berinteraksi dengan Al-Quran, sesudah menghafal dan belajar membaca dengan benar maka harus disambung pada fase berikutnya yaitu mempelajari maknanya baik harafiah maupun penafsirannya, setelah itu mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi maupun yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang cerdas akan menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk menjawab semua persoalan, lalu fase terakhir adalah mengajarkannya kepada semua orang muslim. Itulah tahapan berinteraksi dengan Al-Quran yang benar. proses ini berkelanjutan tak boleh berhenti, tidak boleh hanya menghafalnya saja, atau hanya belajar membaca saja.


Tuesday, August 30, 2011

Al-Quran VS Musik klasik


Kepercayaan orang barat bahwa musik terutama mozart dapat meningkatkan kecerdasan sudah diyakini sejak tahuan 1950-an, mitos ini kemudian diteliti secara lebih serius pada tahun 1990-an. 36 siswa dalam sebuah studi di University of California di Irvine mendengarkan 10 menit sonata Mozart sebelum mengambil tes IQ. Menurut Dr Gordon Shaw, psikolog yang bertanggung jawab atas penelitian ini, skor IQ siswa naik sekitar 8 poin akibat dirangsang oleh alunan ajaib musik Mozart, sejak itulah istilah “Mozart effect ” lahir.

Bahkan di dalam negeri, tahun 2002 Hermanto Tri Juwono dan timnya pernah mencoba pada tikus hamil. Hermanto dkk., memperdengarkan musik klasik Mozart, gamelan sampai dangdut. Setelah distimulasi seperti itu, pertumbuhan sel-sel otak bayi dan ibu tikus diteliti. Hasilnya musik Mozart memberi peningkatan jumlah sel lebih tinggi. Musik gamelan nomor dua tertinggi, sedangkan musik dangdut peningkatannya paling rendah.

Namun setelah bertahun-tahun, orang mulai ragu akan kesahihan dari ‘Mozart effect’ ini dan penelitian tandingan yang menghasilkan kesimpulan kontradiktif dengan kesimpulan diatas sudah dilakukan. Beberapa peneliti dari University of Vienna, Austria yakni Jakob Pietschnig, Martin Voracek dan Anton K. Formann dalam riset mereka yang diberi judul “Mozart Effect” mengemukakan kesalahan besar dari hasil penelitian musik yang melegenda ini. Pietschnig dan kawan-kawannya mengumpulkan semua pendapat dan temuan para ahli terkait dampak musik Mozart terhadap tingkat intelegensi seseorang.Mereka membuat riset yang melibatkan 3000 partisipator, hasil penelitiannya adalah ; ‘tidak ada stimulus atau sesuatu yang mendorong peningkatan kemampuan inteligensi seseorang setelah mendengarkan musik Mozart.’

Tim peneliti dari Jerman yang terdiri atas ilmuwan, psikolog, filsuf, pendidik, dan ahli musik juga mengadakan penelitian serupa, mereka mengumpulkan berbagai literatur dan fakta mengenai efek mozart ini. Dan hasil penelitiannya ; ‘Sangat tidak mungkin mozart dapat membuat seorang anak menjadi jenius.’

Howstuffwork sebuah situs yang terkenal memaparkan bahwa musik klasik seperti karya mozart tidak akan membuat seseorang lebih cerdas. Dalam situsnya, masalah ini dimasukan sebagai salah satu point dalam artikel yang berjudul ;‘10 mitos tentang otak.’

Bahkan Dr Frances Rauscher, seorang peneliti yang terlibat dalam studi di Universitas California di Irvine –yang melahirkan istilah “Mozart Efect”– yang telah menjadi kontroversi dalam komunitas ilmiah ini juga menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengklaim itu benar-benar membuat orang pintar, tetapi hanya meningkatkan kinerja pada tugas-tugas spasial-temporal tertentu.

Sekarang kita mengetahui bahwa musik Mozart –dan sebetulnya semua musik yang memiliki alunan nada yang menenangkan (kecuali musik dangdut sepertinya-red)– hanya diyakini dapat menimbulkan efek psikologis seperti bergairah, tenang atau damai. Dan kondisi psikologis ini memang positif dalam merangsang pertumbuhan sel otak. Psikolog Rose Mini menambahkan bahwa yang terpenting bukan musiknya, namun ketenangan yang didapat oleh seorang ibu yang kemudian ditularkan kepada si bayi sejak dalam kandungan.

Lise Eliot, Ph.D, pakar biologi dan anatomi sel Chicago Medical School AS, mengatakan, perkembangan struktur otak bayi lebih dipengaruhi; pola diet, gaya hidup dan kondisi emosi ibu hamil. Efek musik memang diakui sebagai stimulus psikologis / emosional yang baik.

Jadi musik diakui meningkatkan kecerdasan, namun secara tidak langsung yaitu dengan efeknya yang menenangkan sehingga syarat psikologis dan emosional sang ibu memenuhi syarat untuk menciptakan suasana dan lingkungan rahim yang kondusif untuk pembangunan dan pertumbuhan otak sang janin. Stimulan serupa juga didapati pada Al-Quran, diyakini juga bahwa Al-Quran membawa pengaruh-pengaruh positif lain yang luar biasa disebabkan oleh sumber Al-Quran yang ilahiah, dan juga berdasarkan banyaknya kesaksian orang-orang yang merasakan pengaruh Al-Quran secara langsung maupun tak langsung. Keyakinan ini terus diupayakan diteliti sehingga dapat dijelaskan lebih baik dalam ranah ilmiah.

Sudah diteliti dan didapati fakta bahwa memperdengarkan Al-Quran kepada bayi akan meningkatkan tingkat inteligensia sang bayi. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitian ini dalam sebuah seminar konseling dan psikoterapi Islam.

Setiap suara atau sumber bunyi memiliki frekuensi dan panjang gelombang tertentu. Dan ternyata, bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan tartil yang bagus dan sesuai dengan tajwid memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang mampu mempengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangan dalam tubuh.

Bacaan Al-Qur’an memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh, seperti; memberikan efek menenangkan, meningkatkan kreativitas, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kemampuan konsentrasi, menyembuhkan berbagai penyakit, menciptakan suasana damai dan meredakan ketegangan saraf otak, meredakan kegelisahan, mengatasi rasa takut, memperkuat kepribadian, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan lain sebagainya.

Kalau musik klasik disimpulkan dapat mempengaruhi kecerdasan melalui pengaruh positifnya terhadap stimulan psikologis dengan efektivitas sebesar 65% maka seharusnya Al-Quran yang adalah Kalamullah bisa lebih baik lagi. Al-Qur’an tetaplah obat dan terapi serta stimulan yang terbaik.

Ibu yang cerdas menganggap bahwa rahimnya adalah ruang kelas pertama bagi anaknya, bukan hanya sekedar ruang tunggu bagi janin sampai ia siap dilahirkan ke dunia ini. Para ahli menyatakan bahwa kondisi kejiwaan sang ibu juga sangat mempengaruhi watak dan kecerdasan bayinya. Dalam kondisi stress tubuh sang ibu akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah berlebihan sehingga ini akan memicu tekanan darah meninggi, dada terasa sesak, dan emosi menjadi tidak stabil. Hormon kortisol ini bisa merambat ke bayi melalui plasenta sehingga mempengaruhi pembuluh darah sang janin, akibatnya sang janinpun ikutan stress. Bila ini terjadi terus-menerus dapat menyebabkan sang anak kelak menjadi orang yang rentan stress. Inilah pentingnya ibu yang sedang hamil memperbanyak berdzikir, sebab manfaat berdzikir yang pertama adalah menciptakan ketenangan batin, dan dzikir yang paling utama adalah menghafal, membaca, dan mempelajari Al-Quran Al-Kariim.


Tahfizul Quran Mengasah Kecerdasan Berbahasa


Tahfizul Quran adalah kegiatan yang memberikan stimulus istimewa terhadap otak, yang mengakibatkan penghafal Al-Quran mempunyai kemampuan dan kecerdasan berbahasa lebih pesat sehingga ia akan sangat mudah menguasai bahasa asing.

Bahasa adalah lambang kecerdasan, manusia memiliki bahasa yang paling kompleks, rumit, dan kaya. Bahasa mendiskripsikan objek nyata dan abstrak, bahasa adalah lambang yang mewakili konsep dan luapan pelbagai perasaan, bahasa mengikat dan menyatakan semua jenis kecerdasan manusia baik intelektual, emotional, maupun spiritualnya.

Menurut para ilmuwan penyelidik otak, modul-modul penting untuk perkembangan bahasa adalah area Wernicke dan Broca. Daerah Wernicke beroperasi dengan tujuan memahami pembicaraan dan daerah broca untuk memproduksi pembicaraan, modul-modul tersebut berkembang sejalan waktu berdasarkan kekuatan dari input linguistik. 

Aktivitas menghafal Al-Quran merupakan input linguistik yang akan mengalir deras ke dalam otak. Apabila seorang anak menghafal Al-Quran dengan menggunakan terjemahan indonesianya, sehingga ia dapati juga makna ayat-ayat tersebut maka yang tengah dirangsang bukan hanya bahasa ibu, tapi juga bahasa kedua atau bahasa asing. Apabila cara anak menghafal Quran hanyalah mengulang bunyi-bunyian tanpa memahami terjemahannya maka yang sedang dirangsang adalah pengucapan vokal, vonem, dan konsonan, juga dialeg.

Aktivitas tahfizul Quran merangsang wilayah otak yang bertanggung jawab dalam bidang bahasa, sehingga wilayah itu berkembang dengan kecepatan lebih tinggi stimulus positif ini akan mengakibatkan perkembangan kemampuan berbahasa mereka tumbuh lebih cepat dan lebih baik. Penghafal Al-Quran lebih siap untuk menguasai bahasa kedua (asing) dibandingkan yang tidak menghafal Al-Quran.

Dan penguasaan bahasa Arab akan membawanya pada kualitas yang khusus, karena bahasa Arab adalah bahasa istimewa yang dipilih Allah untuk menjadi bahasa yang menghubungkan-NYA dengan manusia ciptaan-NYA. Penghafal Al-Quran mempunyai kemampuan mengeluarkan fonetik Arab secara lebih sempurna dan alami, sehingga membuatnya lebih fasih dalam bahasa Arab. Kosa kata yang didapatinya dari menghafal Al-Quran sangatlah banyak, sehingga seolah-olah dia sudah menghafal kamus bahasa Arab yang sangat tebal. Bahasa dan susunan kalimat Al-Quran sangatlah berbeda, ia sangat memikat dan mengandung unsur sastra yang tinggi. Sedangkan seorang penghafal Al-Quran yang mampu memahami maknanya itu akan memiliki keluhuran jiwa yang lebih dari yang lain.

Sukses Menghafal Al-Quran



Ada dua penyebab utama mengapa seorang muslim tidak menghafal Al-Quran atau tidak sukses dalam menghafal Al-Quran. Pertama ia tidak mengenal dengan baik Al-Quran Al-Kariim, kedua ia tidak mengenal dengan baik tentang otak dan khususnya memori manusia. Dua sebab utama ini menjadi akar dari sebab-sebab turunan lain yang akan melemahkan kemampuan seorang muslim dalam menghafal Al-Quran.

Apabila seorang muslim tidak mengenal Al-Quran dengan baik maka ia tidak mengetahui apa manfaat berinteraksi dengan Al-Quran, apa manfaat menghafalnya, apa manfaat membacanya dan merenungkannya. Perasaan cinta terhadap Al-Quran sulit mendatangi dirinya karena tidak ada pembiasaan berinteraksi dengan Al-Quran. karena tidak terbiasa maka sudah tentu tidak tercipta kedekatan. Padahal cinta itu datangnya dari pengenalan dan kedekatan. Kalau sudah begitu kondisinya wajarlah kalau ia tidak mengetahui apa manfaaatnya menghafal Al-Quran, padahal penggerak pertama manusia adalah manfaat, semakin besar manfaat maka akan semakin besar pula perjuangan untuk mendapatkannya.

“Apa manfaatnya bagiku..” adalah kondisi mental yang menjadi pondasi kekuatan memori untuk mengikat sebuah data. Semakin besar manfaat yang kita ketahui maka semakin tinggi pula performance memori kita. Jadi langkah pertama untuk meningkatkan kualitas hafalan Al-Quran adalah dengan mengetahui sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya manfaat menghafal Al-Quran.
Informasi utama mengenai apa manfaat menghafal Al-Quran tentu saja bersumber dari Al-Quran itu sendiri dan dari penjelasan Nabi SAW melalui sabda-sabdanya juga dari tambahan yang diberikan oleh para sahabat dan ulama-ulama. Dalil dari Al-Quran dan Hadits sungguh banyak sekali dan dapat dengan mudahnya dirujuk, atsar para sahabat dan ucapan para ulama juga dapat dengan mudah dijumpai di banyak kitab-kitab. Misalnya sebuah kitab yang sangat jamak menjadi sumber rujukan di dunia tahfizul Quran adalah At Tibyaan fii Aaadabi Hamalatil Quran karya ulama besar Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi atau yang populer dikenal sebagai Imam Nawawi.

Kami persilahkan untuk membuka dan menikmati sumber-sumber tersebut, pada kolom ini kami hendak menyampaikan beberapa manfaat yang dekat sekali dengan jangkauan pengalaman kita sebagai upaya untuk memperkuat kepercayaan dan keyakinan kita terhadap aspek normatif yang telah disampaikan oleh yang tak mungkin keliru; Firman Allah SWT dan oleh sumber yang dilindungi oleh kekeliruan yaitu hadits serta ulasan para sahabat dan ulama penerus yang menjadi pengganti Nabi kita SAW sebagai gurunya agama.

Apa manfaat menghafal Al-Quran ?
Agar Al-Quran menjadi bahan dasar pembentuk karakter
Mengasyikkan sekali mengikuti perjalanan panjang manusia dalam upaya memahami dirinya sendiri, cara terbaik dalam memahami diri sendiri bisa dimulai dari otak kita. Otak sejak dahulu kala sampai sekarang sudah menjadi objek studi para ilmuwan, mulai dari plato yang sudah melihat otak sebagai bumi baik karena bentuknya maupun keluasan misterinya sampai Sir Roger Walcot Sperry yang pada tahun 1981 menemukan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara otak kanan dan otak kiri. Brainsaintis ingin memahami apa dan bagaimana otak bekerja. Apa fungsi dari daging berwarna putih dengan tekstur lembut dibalik tengkorak kepala kita, apa tugas dari benda seperti spons berwarna abu-abu yang melipat dirinya dengan sangat unik itu, kenapa bisa ada kerjapan-kerjapan listrik dari sekumpulan lemak protein dan air ini? Dari berabad-abad penelitian anyak sudah dugaan dibuktikan, banyak asumsi di pastikan, banyak juga kesalahan yang sudah di luruskan, tetapi rupanya semakin banyak juga pertanyaan-pertanyaan baru yang lahir.

Berkat kerja keras mereka sekarang kita tahu bahwa otak adalah pusat dari kecerdasan manusia; kebugaran fisik, ketajaman kognitif, kestabilan mental, dan keharmonisan hubungan dengan Tuhan rupanya berasal dari sini. Andai kepala seseorang kena lemparan kerikil, inilah yang terjadi di dalam otaknya : setelah menyalakan rasa sakit, ada bagian otak -anggap saja kurir- yang mencari-cari data yang dapat dikaitkan dengan pengalaman barusan. Dalam hitungan detik sang kurir membawa potongan film Rambo sedang disiksa oleh tentara vietnam, kepingan kenangan ketika bapak gurunya memukul jemarinya karena lupa potong kuku, Naruto tengah menyerang musuhnya, pelajaran sejarah tentang penjajahan Indonesia, suara guru TK-nya di masa lalu yang sedang mendamaikan dua temannya yang berantem. Beberapa fragmen dari film kartun Tom and Jerry, lima detik penjelasan guru ngajinya saat membahas tentang topik ‘memaafkan,’ kenangan saat ibunya menjewer telingannya, wajah beberapa orang temannya, lima orang yang tidak disukainnya dan dua orang sahabatnya, game tekken yang menyajikan pertarungan fisik hingga berdarah-darah, berita tentang para mahasiswa Makasar yang sedang bertarung, fragmen sinetron Tersanjung jilid tiga yang sedang menyajikan penyiksaan majikan pembantu, heading poskota ; “Perang dua gang di Rawamangun terjadi lagi,” puluhan data itu berebut untuk masuk ke dapur emosi dan masing-masing dari mereka mulai berkoalisi, kali ini terbentuk dua gerakan yang  mengusulkan dua paket respon emosional :

Paket satu berisi; Husnuzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah kecil, tak penting,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; batu itu melayang dan menghantam kepalanya dikarenakan sebab ketidaksengajaan, jadi koalisi ini mengusulkan untuk mengabaikan kejadian itu, dan menata hati untuk siap memaafkan kemudian segera berlalu menuju rencana semula yaitu pulang kerumah.

Paket duanya berisi ; Su’uzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah besar, ini tentang harga diri, jangan biarkan musuhmu melecehkanmu,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; jelas ini direncanakan, ada yang bersungguh-sungguh melempar batu dan mengarahkannya langsung ke kepalaku, tujuannya melecehkan, menyakiti dan menantangku, koalisi ini mengusulkan untuk melepaskan amarah sebesar-besarnya, menyiapkan kekuatan fisik untuk berdebat dan berkelahi, lalu dengan tegas membatalkan semua acara sampai masalah maha penting ini diselesaikan dengan memuaskan.

Dua koalisi ini bertarung saling melemahkan, siapa yang lebih kaya data pendukungnya, kaya argumentasinya, maka dialah yang akan menang. Pada kasus diatas koalisi kedualah yang menang, sehingga orang yang kena lemparan kerikil tadi mengeluarkan sikap marah dan bentakan; “Siapa yang kurang ajar telah melempar kepalaku !” Seperti komputer, otak kita terdiri dari prosesor memori dan hardisk, data di tangkap, disimpan, dan siap diolah menjadi respon manusia, sifat, karakter dan watak. Simple saja semakin banyak data positif maka semakin besar kemungkinan seorang manusia menjadi baik. Dan sebaliknya semakin banyak data negatif maka dorongan untuk menjadi buruk pun semakin besar.

Informasi dan data diserap masuk melalui indra penerima (audio, visual, maupun rasa) lalu diterima dan ditampung sementara di short term memory (otak kiri) dari sana siap di oper ke longterm memory (otak kanan) agar data tersebut permanen tersimpan, tetapi data-data yang hendak dioper ke longterm harus terlebih dulu melewati semacam penyaring yang disebut critical area system yaitu semacam fit and proper test yang dilakukan oleh otak, data akan diijinkan masuk ke longterm memory kalau data itu : membuat kesan yang dalam bagi emosional kita, dipahami, atau setelah dilakukan pengulangan yang masif.

Begitulah proses orang dewasa memasok data di otaknya. pada usia anak-anak, terutama di usia golden age (0 s/d 8 Thn dan kalau anak itu beruntung masih bisa berlanjut sampai usia12 thn) prosesnya tidak seperti itu, data langsung bypass ke otak kanan atau ke longterm memory karena otak kiri anak belum berfungsi sempurna, karena otak kiri belum berfungsi maka critical area system  pun belum berfungsi. Keuntungannya adalah setiap anak pada usia keemasan ini memiliki keistimewaan dalam daya hafal mereka. Kerugiannya, tanpa critical area system semua data akan nyelonong masuk begitu saja ke longterm memory tak peduli data itu pantas atau tidak, tak peduli baik atau buruk, tak peduli dosa atau tidak, data berjenis apapun akan terserap masuk, bagai air berhadapan dengan spoon.

Subhanallah, mungkin memang dirancang seperti itu. Pada awalnya manusia membutuhkan banyak jenis data sebagai bahan baku karakternya. Seorang anak harus banyak mendengar, banyak melihat agar databasenya berisi banyak sekali berbagai jenis data untuk diolah menjadi karakter atau apa yang mungkin lebih tepat disebut dengan : watak. Maka tugas orangtua adalah memastikan agar data-data ‘baik’-lah yang mendominasi gudang pembuat karakter itu. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menghafal Quran maka ayat-ayat AlQuran itu akan memenuhi gudang data di otaknya, oleh karenanyalah Al-Quran akan menjadi salah satu bahan baku penting dari pembentukan karakter atau watak seorang anak. Mungkin ini sebabnya Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan mencampurkan dengan daging dan darahnya”. (HR Bukhari)
Berbasis pengetahuan tentang otak saat ini maka nash tersebut dapat ditafsirkan ; “Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan baku pembentuk karakternya.” Allahua’lam.

Bagaimana dengan usia dewasa? Apakah Al-Quran masih bisa berfungsi sebagai basis pembentuk karakter? Atau lebih tepatnya perubah karakter? Yang jahat jadi baik, yang baik akan lebih baik lagi dan seterusnya, dan seterusnya?
Pada usia anak-anak, Allah yang Maha Rahim meletakkan keistimewaan yang sudah diulas tersebut, sedangkan pada usia dewasa pasti Allah SWT juga mengkaruniakan kemudahan-kemudahan yang lain namun tujuannya tetap sama, yaitu agar Al-Quran menjadi sumber pembangun karakter manusia. Dalam sejarah panjang Islam hal tersebut sudah dibuktikan, bagaimana masyarakat yang jahil menjadi masyarakat yang cerdas, pelopor peradaban modern, dan model terbaik dari tipologi masyarakat muslim ideal. Dalam skala individu kita melihat bagaimana Abu Bakar ra yang dikenal sebagai lelaki lembut hati ternyata dapat dengan sangat tegas menyikapi pembangkangan kaum murtad yang ingin melepas diri dari syariat. Bagaimana Umar ra yang dikenal sebagai tokoh premannya kota Makkah ternyata mampu menjadi khalifah yang sangat lembut hati. Karakter-karakter positif yang baru ini muncul dari interaksinya yang istimewa terhadap Al-Quran Al-Kariim. Sedangkan bagaimana proses teknis penambahan karakter positif itu terjadi merupakan bahasan tersendiri. Wallahu’alam.


Menjadi “Keluarga Allah”

 
Alasan tertinggi dari kenapa seorang muslim menghafal Al-Quran adalah karena ketaatannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, dia mengharap perjumpaan dengan sang pencipta dirinya. Ia mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, dan Allah ridlo serta cinta pada dirinya. Allah mencintainya karena ia telah menunjukkan kecintaan dan respect yang sempurna terhadap surat cinta-NYA dan karena ia telah mencontoh Nabi SAW yang menghafal Al-Quran, serta mengulanginya berkali-kali bersama malaikat jibril. Seperti juga semua sahabat menghafal Al-Quran, semua tabiin berusaha menghafalnya, semua Ulama terbaik juga menghafal Al-Quran.

Penghafal Al-Quran sudah pasti adalah seorang muslim yang paling banyak membaca Al-Quran, bayangkan betapa banyak pahala yang dia dapati pada setiap murajaahnya. Nabi Saw bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Quran, maka ia akan mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan serupa dengan sepuluh.” Dan dalam kesempatan lain Rasulullah SAW menegaskan bahwa “Bukan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif itu satu, Lam itu satu, dan mim itu satu.” Dan kelak Al-Quran akan datang menolongya pada hari kiamat, juga menjadi sebab dari selamatnya dia dari api neraka, dan penghafal Al-Quran memiliki derajat yang tinggi dalam surga. Bahkan Penghafal Al-Quran adalah kelompok mahluk Allah yang paling utama ;
Diceritakan dari Anas bin malik, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Mereka adalah Ahlul Quran dan mereka sangat istimewa dihadapan Allah’.”

Para penghafal Al-Quran adalah keluarga Allah dan kelompok pilihan-NYA. Ini merupakan bentuk pemuliaan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia terhadap Rabbnya. Karena status istimewa tersebutlah maka penghafal Al-Quran mendapatkan keutamaan-keutamaan baik di dunia maupun diakhirat kelak, diantaranya ; Paling berhak menjadi Imam dalam shalat, paling berhak menjadi pemimpin dalam setiap urusan, paling berhak dikuburkan lebih dahulu, dan lain sebagainya.